Selain BBM, kenaikan dolar juga berdampak pada sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu inflasi akibat naiknya biaya produksi.
“Dengan adanya dolar yang meningkat ini, kita banyak impor bahan baku, baik itu bahan baku untuk industri dan lain-lain, termasuk industri rumah tangga juga. Sehingga ketika bahan bakunya naik, maka harga barang pun juga ikut naik, yang bisa memicu inflasi sebenarnya,” katanya.
Menurutnya, dampak lain yang perlu diwaspadai yakni kenaikan beban utang luar negeri Indonesia karena sebagian besar pembayaran dilakukan menggunakan dolar Amerika Serikat.
“Ketika dolar naik, maka otomatis jumlah utang luar negeri kita yang dibayar pakai dolar juga ikut naik. Dan ini bisa menguras devisa negara kita juga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi penguatan dolar, Muhammad Ichsan Hajri menyebut Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan pembatasan pembelian dolar dari sebelumnya 50 ribu dolar menjadi 25 ribu dolar.
“Pembatasan pembelian dolar sehingga bisa diharapkan menekan harga dolar tidak terlalu tinggi lagi dibanding rupiah,” katanya.
Ia juga menilai pemerintah dan Bank Indonesia harus terus menjaga stabilitas ekonomi serta kepercayaan investor agar capital outflow atau arus modal keluar dapat ditekan.
“Kita menjaga independensi Bank Indonesia sehingga investor tidak ragu untuk bisa menanamkan modalnya lagi ke kita. Karena kita lumayan banyak capital outflow sekarang,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih mengutamakan penggunaan produk dalam negeri dan bertransaksi menggunakan rupiah guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar.
“Semakin banyak kita menggunakan dolar dalam transaksi, tentu ini akan membuat rupiah semakin terpukul. Kita berharap kita bisa melakukan rupiah, cintai rupiah, karena semakin banyak rupiah kita gunakan, ketergantungan harga dolar juga semakin berkurang,” katanya.
Muhammad Ichsan Hajri berharap nilai tukar rupiah dapat kembali stabil di bawah Rp17 ribu per dolar AS seiring upaya pemerintah dan Bank Indonesia menjaga kondisi ekonomi nasional.
“Kita berharap nanti secara perlahan kita bisa menumbuhkan kembali kepercayaan investor, bisa mengendalikan capital outflow, sehingga nanti semakin banyak yang menanamkan modal lagi ke kita, itu akan sedikit banyak memengaruhi nilai tukar rupiah kita nanti,” tandasnya.
