MUBA, PALTV.CO.ID – Musim “Seluang Mudik” kembali membawa berkah bagi para nelayan di sepanjang aliran Sungai Musi.
Fenomena tahunan ini ditandai dengan melimpahnya ikan-ikan kecil yang masuk ke jaring tangkapan warga, khususnya di wilayah Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Bagi masyarakat pesisir Sungai Musi, musim seluang mudik menjadi momen yang dinanti setiap tahunnya.
Saat debit air berubah dan arus sungai mendukung, ikan seluang bergerak dalam jumlah besar sehingga mudah ditangkap menggunakan jaring tradisional.
Seluang Mudik Datang, Hasil Tangkapan Melimpah Namun Tak Semua Ikan Laku di Pasar
Namun melimpahnya hasil tangkapan tidak sepenuhnya membawa keuntungan besar bagi nelayan.
Pasalnya, hanya ikan seluang yang memiliki nilai jual tinggi dan cepat habis di pasaran. Sementara ikan-ikan kecil campuran yang ikut tertangkap justru kurang diminati pembeli.
“Kalau seluang memang cukup laku. Tapi kalau ikan campuran atau ikan kecil lain kadang susah dijual, bahkan tidak ada harga,” ujar Yanto, salah satu nelayan Sungai Musi saat diwawancarai pada hari Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut Yanto, dalam sehari hasil tangkapan saat musim seluang mudik bisa mencapai hingga satu ton.
Namun jumlah tersebut didominasi ikan campuran berukuran kecil yang di masyarakat Sekayu dikenal sebagai “ikan sampah”.
“Kalau sehari ikan yang masuk bisa sampai 1 ton. Itu tidak hanya seluang, tapi banyak ikan campuran ukuran kecil. Sebenarnya ada yang beli, tapi harus dipilih yang besar-besar. Itupun harganya hanya sekitar Rp5 ribu per kilogram,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha perikanan sungai. Banyaknya hasil tangkapan belum tentu memberikan keuntungan maksimal karena rendahnya daya jual ikan campuran.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Musi Banyuasin, Sunaryo, mengatakan pihaknya terus mendorong masyarakat untuk mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah.
Menurutnya, sejumlah pelatihan pengolahan hasil perikanan telah diberikan kepada kelompok masyarakat, mulai dari pembuatan rusip, pempek hingga kemplang.
“Dinas Perikanan telah memberikan pelatihan usaha perikanan pada sejumlah kelompok, seperti fermentasi rusip, pempek, kemplang dan lainnya. Namun ini butuh proses, tidak bisa seperti seluang yang langsung laku di pasar,” jelas Sunaryo.
Sunaryo menambahkan, karakteristik musim seluang mudik yang tidak berlangsung secara rutin juga menjadi tantangan dalam pengembangan usaha berbasis hasil tangkapan musiman tersebut.

“Setiap ikan mempunyai harga dan daya jual masing-masing. Usaha perikanan kalau dikelola dengan baik bisa memberikan nilai lebih bahkan membuka lapangan pekerjaan,” tutupnya.

